| Seminar Internasional Ketiga, Hubungan Diplomasi Indonesia-Mesir di Universitas Zaqaziq. |
|
|
|
| Selasa, 25 Mei 2010 17:57 |
![]() Seminar yang dimulai dari jam 11.00 itu dibuka langsung oleh Dubes RI-Mesir, A.M. Fachir dan Rektor Universitas Zaqaziq, Prof. Dr. Mahir Dimyati. Dalam kesempatan itu, Dubes RI untuk Mesir memaparkan secara lengkap hubungan diplomatik Indonesia-Mesir yang bermula dari tahun kemerdekaan Indonesia, 1945. Hubungan ini berlanjut secara harmonis karena negara pertama kali yang mengakui kemerdekaan Indonesia adalah negara Mesir. Presiden pertama kali yang berkunjung ke Indonesia setelah kemerdekaan Indonesia adalah Presiden Mesir, Gamal Abdul Naser. Selain itu, A.M Fachir juga mengungkapkan, Mesir merupakan salah satu negara yang ikut berpartisipasi dalam perumusan KTT Asia Afrika di Bandung pada tahun 1955. Adanya seminar ini diharapkan untuk mempererat hubungan diplomasi antara dua negara. Hal ini juga untuk memajukan kedua belah pihak dalam pertukaran ilmu dan kebudayaan. Sementara itu, Rektor Universitas Zaqaziq, Prof. Dr. Mahir Dimyati dalam kata pengantarnya mengakatakan, bahwa Indonesia adalah negara kepulauan yang sangat menolerir agama dan kepercayaan pada seluruh penduduknya. Hubungan Indonesia-Mesir sebenarnya sudah dimulai jauh sebelum kemerdekaan kedua belah pihak, yaitu dari masuknya penyebar agama Islam dari kawasan Timur Tengah, khususnya dari Mesir sendiri. Prof. Dr. Mahir Dimyati juga melanjutkan, setelah kemerdekaan Indonesia, hubungan itu semakin erat dengan datangnya pelajar-pelajar Indonesia untuk menimba ilmu di Universitas Al Azhar Mesir. Hingga sekarang, di masjid Al Azhar ada satu tempat yang dikenal sebagai Ruwwaq Al Jawi (Galeri Mahasiswa Jawa). Banyaknya lulusan Al Azhar inilah semakin memperkokoh nilai ke-Islaman masyarakat Indonesia pada abad ini. Setelah dibuka oleh Dubes RI-Mesir dan Rektor Universitas Zaqaziq, acara dilanjutkan dengan seminar umum yang menghadirkan dua ilmuwan dan pemikir dari kedua belah pihak. Dalam hal ini, Mesir diwakili oleh beberapa ilmuwan yang diantaranya adalah Prof. Dr. Hasan Hamad, Dekan Fakultas Sastra Universitas Zaqaziq, Prof. Dr. Ra’fat Ghanimi Asy Syaikh, Pengajar Sejarah Modern Universitas Zaqaziq dan Prof. Dr. Sa’id Juwaili, Dekan Studi Asia. Sementara itu, dari pihak Indonesia sendiri diwakili oleh Dr. Ahmad Luthfi, MA Atase Pendidikan KBRI Riyadh dan Dr. Siti Mutiah Setiawati, M.A. Dosen Jurusan Hubungan Internasional Fakultas Sosial Politik UGM dan Sekretaris Program Master dan Doktor Kajian Timur Tengah sekolah Pascasarjana UGM. Seminar internasional itu selain membahas tentang masalah-masalah hubungan Indonesia-Mesir, juga membahas tentang pertukaran ilmu dan budaya dari kedua belah pihak. Seperti yang dikatakan Dr. Ahmad Luthfi, banyak mahasiswa Indonesia di Mesir dapat menggunakan bahasa Ammiyah Mesir, namun sayang, jarang sekali orang Mesir yang dapat menguasai bahasa Indonesia. Pertanyaan Dr. Ah. Luthfi itu ditanggapi Dr. Ra’fat yang menjadi salah satu pemateri dengan gurauan, hingga beberapa kali membuat hadirin tertawa. Meski jalannya seminar ini lebih dari tiga jam, tetapi hadirin terlihat sangat antusias mendengar pemaparan para Pemateri. Di sela-sela istirahat, tampil hiburan dari Group Nasyid Da’i Nada. Penampilan Group yang sudah tenar di kalangan Jazirah Arab itu disambut dengan histeris para hadirin dari Mesir.
Berita Lainnya:
Berita Sebelumnya:
|

















