| Bedah Novel FLP Mesir |
|
|
|
| Sabtu, 04 Juli 2009 08:48 |
![]() Dalam rangka apresiasi dua novel karya anggota Forum Lingkar Pena (FLP) Wilayah Mesir yang baru beberapa bulan lalu terbit di Indonesia, maka FLP Mesir 29/6 gelar acara bedah buku di Aula Griya Jateng. Dua novel dari penulis FLP Mesir itu adalah; novel "Mengapung Bersama Nil" karya Arif Friyadi dan "Fatimeh Goes To Cairo" karya Arif Kurniawan (Achoer). Acara Bedah buku digelar dalam rangkaian Musywil (Musyawarah Wilayah) FLP Mesir dan serah terima jabatan ketua Umum FLP Mesir dari Arif Friyadi pada Ahmad Harir. Atase Pendidikan KBRI Cairo, Dr. Sangidu, M.Hum., dalam kesempatan tersebut menyampaikan sambutan antara lain mengemukakan apresiasi untuk dua novel yang telah mewarnai dunia kepenulisan nasional. Selain itu Dr. Sangidu juga memaparkan keunikan novel "Mengapung Bersama Nil" yang merupakan buah karya seorang penulis yang tidak terlibat langsung dalam masyarakat tempat karya tersebut dilahirkan. Seperti halnya karya Najib Kilani yang berjudul "Adzra' Jakarta." Menurut Lucien Goldman, yang disebut karya garda depan adalah karya yang ditulis oleh seorang pengarang yang ia sendiri melakukan observasi langsung di masyarakat tempat karya itu dilahirkan atau manjing ing kahanan menurut istilah WS Rendra. Namun demikian, karya Najib Kilani diakui oleh sebagian besar kritikus bahwa karya-karya termasuk karya-karya garda depan walaupun ia tidak observasi langsung di masyarakat tempat karya itu dilahirkan. Nadhif Sidqi, salah satu pembicara di dalam Bedah Buku juga menyampaikan kritiknya pada novel "Mengapung Bersama Nil". Nadhif mengatakan bahwa penulis kurang teliti di dalam menulis karya tersebut, sehingga banyak kesalahan ketik yang cukup mengganggu. Sedangkan pembicara yang lain, Aziz Ramdhani, banyak menyinggung kelemahan karya "Fatimeh Goes To Cairo" yang dinilai terlalu sentimentil. Terlepas dari itu semua, Arif Friyadi selaku Penulis novel "Mengapung Bersama Nil" mengatakan novelnya adalah novel dalam genre dakwah. Seorang penulis jika betul-betul meniatkan diri untuk berdakwah dalam karya-karyanya, tentu itu akan menjadi sebuah ladang dakwah di akhirat nanti. Acara yang dihadiri oleh sekitar 70 mahasiswa ini, mendapat sambutan yang cukup meriah, karena di saat Habiburrahman el-Syairozi (penulis novel Ayat-ayat Cinta dan Ketika Cinta Bertasbih) masih berjaya, sudah muncul kader-kader penulis baru dari Cairo, yang karyanya juga digandrungi oleh pembaca di berbagai kota tanah air. Berita Lainnya:
Berita Sebelumnya:
|
















