| Dialog Keindonesiaan |
|
|
|
| Ditulis oleh Nasrul Fahmi Zaki Fuadi |
| Minggu, 28 Februari 2010 00:00 |
|
![]()
Bertindak sebagai pembicara Dr. Muslim Ibrahim, MA. dan Dr. Nurul Iman Mustafa, M.Ag. yang keduanya merupakan utusan Indonesia dalam acara “Conference of the Supreme Council for Islamic Affairs” ke 22 di Cairo. Kedua pembicara memaparkan bahwa walaupun Indonesia telah mempunyai UU dan Perda yang mengatur penerapan syariat Islam, akan tetapi pada penerapannya tidak mudah. Begitu juga dalam pembuatan UU-nya juga harus hati-hati agar gesekan antara keragaman budaya dan agama bisa dihindari dan persatuan tetap ditegakkan. Sedangkan Bapak AM. Fachir (Dubes RI untuk Cairo) dalam sambutannya menginformasikan, bahwa beberapa waktu lalu beliau membaca sebuah reportase yang di majalah al Ahram Mesir yang menyebutkan bahwa Indonesia on the right track dalam mengkombinasikan diri sebagai negara muslim terbesar, penegak demokrasi dan pengembang ekonomi. Beliau juga memberikan motivasi kepada peserta untuk lebih giat lagi dalam mempelajari khazanah keilmuan, baik formal maupun non formal, karena lulusan al-Azhar mempunyai peranan penting dalam meregulasi kemajuan Indonesia, terutama dalam bingkai moral, etika dan norma keagamaan. Berita Lainnya:
Berita Sebelumnya:
|




