Jumat, 18 Mei 2012
Kajian Tafsir Insani di KBRI Cairo PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Administrator   
Rabu, 22 April 2009 16:34

Dalam rangka meningkatkan wawasan ke-Islaman mahasiswa Indonesia di Mesir dan memberikan sarana berdialog secara interaktif tentang gagasan baru Tafsir Insani, KBRI Cairo bekerjasama dengan Forum Studi Al-Quran (FORDIAN) dan Forum Studi Mahasiswa Pascasarjana di Mesir Al-Mondada, pada tanggal, 14 April 2009 mengadakan Dialog Interaktif dengan Tema Tafsir Insani, di Balai Budaya KBRI Cairo.

Dalam dialog tersebut, hadir sebagai nara sumber, Dr. Atabik Luthfi, MA, Dosen Pascasarjana STAIN Cirebon dan Pembanding, Nidhol Masyhud, Lc, Mahasiswa Pascasarjana di Universitas Al-Azhar Mesir.

Atase Pendidikan KBRI Cairo, Dr. Sangidu, M.Hum., dalam sambutannya antara lain menyatakan bahwa kajian yang ditawarkan oleh nara sumber mengacu pada metodologi penafsiran, dari manusia dan untuk manusia. Maksudnya adalah untuk mencari jawaban apakah Al-Quran dapat ditafsirkan sesuai dengan kondisi masyarakat setempat? Kalau iya, apa saja batasan-batasan yang harus menjadi pegangan sehingga penafsiran Al-Quran sesuai dengan apa yang digariskan oleh ajaran Islam.

Dr. Atabik Luthfi, MA dalam memaparkan tentang POHON METODOLOGI TAFSIR, antara lain mengatakan bahwa secara metodologis, tafsir Al-Qur'an dapat dirumuskan berdasarkan urutan prinsip, aplikatif dan pengembangannya kepada rumusan berikut ini:

  1. Apapun model dan corak penafsiran tidak akan keluar dari dua metode prinsip, yaitu bil-ma’tsūr atau bir-ra’yi.
  2. Pada tataran aplikasinya, terdapat empat metode aplikatif pilihan; metode tachlīli, ijmāli, maudhū’i dan metode muqārin.
  3. Pada gilirannya, corak dan stressing pembahasan tafsir sangat dipengaruhi oleh latar belakang disiplin ilmu atau kecenderungan sang penafsir, ditambah dengan lingkungan yang mempengaruhi aspek sosiologis dan antropologis masyarakat sekitar penafsir.

Oleh karena itu, menurut Atabik, disinilah sebuah penafsiran terus berkembang seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan problematika yang terjadi di tengah masyarakat.

Setelah paparan narasumber dan pembanding, dibuka forum dialog yang mendapat respon cukup hangat dari para peserta baik mahasiswa maupun staf KBRI Cairo. Hadir juga pada acara tersebut, Duta Besar RI, A.M. Fachir, Kepala Kanselerai, Burhanuddin, Sekretaris I Politik, Charnadi Trido Ekosaputro, Sekretaris I Protkons, Adrian Tomas Siregar dan beberapa staf lain serta mahasiswa pascasarjana yang sedang menyelesaikan studi S-2 dan S-3 di Mesir.

Bookmark with:

Deli.cio.us    Digg    reddit    Facebook    StumbleUpon    Newsvine

Berita Lainnya:
Berita Sebelumnya:

LAST_UPDATED2